Oleh Dwiyoga Nugroho

Gegap gempita peringatan HUT RI sudah mulai reda, umbul umbul, spanduk, lampu hiasan dan bendera sudah mulai dilepas lagi satu persatu, dicuci dan disimpan untuk tahun depan. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk merayakannya tahun depan. Namun kesibukan baru bernuansa kebersamaan kembali menyeruak karena bulan suci umat Muslim telah menjelang. Mushola dan masjid riuh akan jamaah yang berlomba memetik buah dari seribu bulan berkah. Ramadhan telah datang. Ah sungguh indah negeri ini, negeri yang sangat beragam dan kompleks, hmm tidak mudah untuk mempersatukan sebuah bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku dan bahasa, namun begitulah kekuatan persatuan di negeri ini mampu menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan lengkap.

rodhad-popart2

Selamatkan kesenian Rodhad

Ketika mencoba menuliskan sesuatu sore tadi di depan rumah, aku melihat masih ada bendera Dwi Warna tengah berkibar di atas bangunan rumah yang belum jadi, aku tersenyum menikmati kibaran bendera itu. Sebuah kultur yang mensyaratkan bendera terpasang di atas rumah yang sedang dibangun.  Aku bangga dengan kibaran bendera itu, berlatarkan langit yang  berona jingga. Namun tiba tiba hati ini seperti tersayat sembilu, seperti ketika mendengarkan Mbah Maliki berdendang nyanyian Rodhad yang berkisah tentang pengorbanan para Kiyai dan rakyat menentang penjajahan kompeni Belanda pimpinan Daendels, ketika membangun Jalan Anyer – Panarukan yang mengorbankan ribuan nyawa anak bangsa. Senandung mbah Maliki sungguh menyentuh relung jiwa ini, beliau adalah seorang pensiunan prajurit yang menjadi salah satu bagian dari perjuangan bangsa ini mempertahankan Irian Barat, dan Permesta. Mbah Maliki masih menyisakan kegagahan seorang pejuang, walau keriput mulai bergelanyut di pipi dan dahinya namun semangat juang masih tetap berkobar dibalik sorot matanya.

mbah-maliki

MBah Maliki berdendang

Kesibukan beliau sekarang adalah bertani, ya bertani walau hanya di ladang tandus di pinggir desa Sulang Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Mbah Maliki adalah mantan penari Rodhad, sebuah kesenian tari dan dendang lagu syarat dengan syair petuah, gerakan tarinya pun konon sebuah runutan seni bela diri yang terbungkus dalam indahnya gerak. Dulu Rodhad menjadi sarana dakwah dan propaganda bagi kaum muda untuk bangkit menentang kehadiran penjajah, maklum saja Belanda tidak memperbolehkan kaum muda pribumi berkegiatan juang, semua dibelenggu. Kurang lebih begitu pertemuanku dengan kakek berusia hampir 80 tahun bernama Mbah Maliki, seseorang yang menurutku adalah sosok panutan yang baik yang sampai sekarang masih bersemangat mempertahankan kesenian Rodhad walau sangat tidak mungkin rodhad akan mengalahkan breakdance, tapi bagiku semangat Mbah Maliki tidak akan tenggelam oleh dentuman roundtable yang memutar lagu di remang namun penuh lelampu, diskotek. Read the rest of this entry »